Aku menulis ini saat senja perlahan tenggelam,
ketika langit berubah warna
dan malam datang membawa sunyi.
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan,
namun tak semuanya bisa kuucapkan langsung padamu.
Kita tidak berpisah karena cinta yang hilang.
Aku tahu itu.
Aku pergi karena keadaan yang tidak memberi kita pilihan,
karena hubungan ini terlarang
dan semakin dipertahankan
hanya akan melukai lebih banyak hati.
Percayalah, keputusanku bukan keputusan yang mudah.
Aku bertahan cukup lama,
menimbang rasa dan logika,
antara ingin tetap bersamamu
atau memilih jalan yang paling sedikit melukai siapa pun.
Aku memilih pergi
bukan karena aku tak mencintaimu,
melainkan karena aku terlalu mencintaimu
hingga tak sanggup melihatmu hidup
dalam rasa bersalah dan ketakutan.
Di setiap senja,
aku sering terdiam,
mengingat bagaimana dulu kita berbagi waktu sederhana—
tanpa janji besar,
tanpa rencana panjang,
hanya rasa yang tumbuh perlahan
dan terasa begitu nyata.
Namun malam selalu datang
mengingatkanku pada batas.
Bahwa tidak semua yang terasa indah
boleh dimiliki selamanya.
Bahwa ada cinta
yang harus disimpan dalam diam
agar tidak berubah menjadi dosa
atau penyesalan.
Aku masih merindukanmu,
tapi aku belajar merindukan dengan cara yang tenang.
Tidak mencarimu,
tidak mengganggumu,
tidak berharap lebih dari yang seharusnya.
Aku menyebut namamu dalam doa,
bukan agar kau kembali padaku,
melainkan agar hidupmu dipenuhi ketenangan.
Agar langkahmu ringan,
hatimu damai,
dan kau dikelilingi kebahagiaan
yang tidak perlu disembunyikan.
Jika suatu malam kau merasa sesak tanpa sebab,
percayalah, mungkin di saat yang sama
aku sedang belajar mengikhlaskan
dengan cara yang paling sunyi.
Menata perasaan,
menerima kenyataan,
dan berdamai dengan apa yang tidak bisa kumiliki.
Aku tidak menyesali pertemuan kita.
Kau pernah menjadi bagian dari hariku,
dari doaku,
dari cerita yang akan selalu kusimpan
tanpa perlu kuceritakan pada siapa pun.
Dan jika akhirnya kita berjalan
di arah yang benar-benar berbeda,
aku berharap suatu hari nanti
ketika mengingat satu sama lain,
tidak ada luka yang tersisa—
hanya rasa hangat
seperti senja yang pernah kita nikmati bersama.
Terima kasih
karena pernah hadir dengan tulus.
Terima kasih
karena pernah membuatku merasa dicintai,
meski pada akhirnya
aku harus belajar melepaskan.
Semoga Tuhan menjaga kita
di jalan masing-masing.
Dalam diam,
dalam jarak,
dan dalam doa yang tak pernah berhenti
kupanjatkan.







0 komentar:
Posting Komentar